Perlindungan Hukum Kreditor yang Tidak Mendaftarkan Tagihan terhadap Klausul Perjanjian Perdamaian yang Mengakibatkan Penghapusan Piutang
Studi Kasus Putusan Homologasi Nomor 62/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Sby
DOI:
https://doi.org/10.62383/aliansi.v2i6.1332Keywords:
Bad Faith, Composition Plan, Homologation, Judicial Review, Unregistered CreditorsAbstract
The Suspension of Debt Payment Obligations (PKPU) is a rehabilitative mechanism, but it is susceptible to bad faith abuse. This case study examines Homologation Decision No. 62/Pdt.Sus-PKPU/2021/PN Niaga Sby, where judges ratified a composition plan creating a "Previous Trade Creditors" category. This clause, targeting unregistered creditors, effectively resulted in a 95% debt write-off, injuring the Principle of Justice. This research aims to analyze the judges' legal considerations in ratifying this clause and examines their failure to apply material judicial obligations regarding the debtor's bad faith. This research utilizes a normative juridical method with a statute and case study approach. The analysis is qualitative, examining the decision and relevant legislation, supplemented by an interview with a practicing Commercial Court judge. The primary finding is that the judges' considerations were overly positivistic, focusing only on the formal voting quorum (Article 281, UU KPKPU). They failed to execute their imperative duty under Article 285(2)(c) to reject a plan achieved via "dishonest means". The 95% write-off is prima facie bad faith and is punitive, not rehabilitative. The judges misinterpreted the Publicity Principle; non-registration should only cause the loss of voting rights (procedural), not the loss of claim rights (substantive). This failure of material judicial review legitimized the abuse of the PKPU institution.
Downloads
References
Aprita, S., & Qosim, S. (2022). Optimalisasi wewenang dan tanggung jawab hakim pengawas dalam hukum kepailitan di Indonesia. Jurnal Ius Constituendum, 7(2), 192–206. https://doi.org/10.26623/jic.v7i2.3963
Arimba, C. I. (2024). Tanggung jawab hakim pengawas terhadap harta pailit. Begawan Abioso, 14(2). https://doi.org/10.37893/abioso.v14i2.708
Athirah, Z., & Sugiyono, H. (2023). Kepastian hukum putusan pengesahan homologasi dalam perkara kepailitan. Jurnal Interpretasi Hukum, 4(3), 547–555. https://doi.org/10.22225/juinhum.4.3.8179.547-555
Fukuyama, F. (2005). Trust: Kebajikan sosial dan penciptaan kemakmuran. Dalam Ruslani (Ed.), Trust: Kebajikan sosial dan penciptaan kemakmuran (hlm. 40). Yogyakarta: Qalam.
Hapsari, L. A., & Setiyawan, A. (2023). Penerapan asas itikad baik dalam penyelesaian sengketa perdata. Zaaken: Journal of Civil and Business Law, 4(3). https://doi.org/10.22437/zaaken.v4i3.31365
Hasnakusumah, R. T. (2025). Tinjauan asas itikad baik dan perlindungan debitur terhadap penolakan pembayaran oleh kreditur dalam permohonan pailit (Studi Putusan No. 2/Pdt.Sus-Pailit/2024/PN Niaga Semarang). Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 14(1), 171–180.
Hendrial, Z., Hasnati, & Utama, A. S. (2022). Peran hakim pengawas pada kasus kepailitan Batavia Air menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan. Journal Equitable, 7(1), 113–125. https://doi.org/10.37859/jeq.v7i1.3688
Hidayansyah, T. Z., & Agustina, R. (2021). Penerapan itikad baik dan kebebasan berkontrak pada jaminan kebendaan berdasarkan perjanjian fasilitas pinjaman dalam sengketa kepailitan (Studi Kasus Putusan No. 3/Pdt.Sus-Lain lain/2021/PN Niaga Mdn). Lex Patri, 2(1).
Hutabarat, A. G., Sunarmi, S., & Robert, R. (2025). Perlindungan kreditur separatis terhadap jangka waktu eksekusi objek hak tanggungan dalam proses insolvensi. Binamulia Hukum, 14(1). https://doi.org/10.37893/jbh.v14i1.1007
Ihsan, M. I., & Widyaningrum, T. (2023). Implikasi putusan Mahkamah Konstitusi tentang terbukanya upaya hukum kasasi atas putusan PKPU. Ius Constituendum, 8(2), 324–342. https://doi.org/10.26623/jic.v8i2.7027
Ikhwansyah, I., Judiasih, S. D., & Pustikasari, R. S. (2018). Hukum kepailitan: Analisis dalam hukum keluarga dan harta kekayaan. Bandung: Keni Media.
Kalundas, S., Kurnia, M. P., & Fauzi, M. (2024). Analisis yuridis pembatalan perjanjian perdamaian (homologasi) perkara penundaan kewajiban pembayaran utang pada pengadilan niaga. Awang Long Law Review, 8(1). https://doi.org/10.56301/juris.v8i1.1251
Muallif, R., & Gultom, E. R. (2023). Aspek kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang dalam pembangunan ekonomi nasional. UNES Law Review, 5(4).
Mulyana, C., & Christiawan, R. (2022). Transformasi asas publisitas kepailitan dan PKPU untuk perlindungan hukum para pihak di era digital. Jurnal Rechtsvinding, 11(1).
Murni, R. A. R. (2020). Asas lex specialis derogat legi generalis dalam perkara kepailitan. Jember: Universitas Jember.
Ramadhan, M. R., Suryanti, N., & Yuanitasari, D. (2025). Analisis terhadap perdamaian dalam kepailitan yang diawali dengan penolakan perdamaian dalam PKPU. Media Hukum Indonesia, 3(3), 800–814.
Ramadhan, M. S., Nurfitrah, M. A., Trinanda, M. E., & Putri, R. C. (2024). Tinjauan hukum moratorium permohonan kepailitan dan PKPU serta asas kelangsungan usaha dalam perspektif hukum. Jurnal Kepastian Hukum dan Keadilan, 6(2).
Ridduwan, & Fitriah. (2022). Perlindungan hukum terhadap pekerja dalam hal perusahaan mengalami kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang. Jurnal Interpretasi Hukum, 3(1), 159–163. https://doi.org/10.22225/juinhum.3.1.4737.159-163
Silalahi, U., & Tanjung, B. (2021). Perjanjian perdamaian pada proses penundaan kewajiban pembayaran utang berulang: Kedudukan dan implikasi. Undang: Jurnal Hukum, 4(2), 371–401. https://doi.org/10.22437/ujh.4.2.371-401
Wicaksono, M. R. (2018). Tinjauan yuridis upaya hukum terhadap perjanjian homologasi PKPU PT. Golden Spike Energy. Depok: Universitas Indonesia.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Aliansi: Jurnal Hukum, Pendidikan dan Sosial Humaniora

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


